Info Sekolah
Senin, 22 Apr 2024
  • SMA Negeri 1 Pejagoan, Jalan Raya soka barat kilometer 4 Pejagoan, Kebumen - Kode Pos 54361 Telepon: 0287 382022 surat elektronik : smanja_1@yahoo.com
  • SMA Negeri 1 Pejagoan, Jalan Raya soka barat kilometer 4 Pejagoan, Kebumen - Kode Pos 54361 Telepon: 0287 382022 surat elektronik : smanja_1@yahoo.com

Meningkatkan Keaktifan Peserta Didik Melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning

Terbit : Senin, 6 Desember 2021 - Kategori : Kegiatan Guru

Meningkatkan Keaktifan Peserta Didik Melalui

Model Pembelajaran Problem Based Learning

                          Oleh : Heri Pamuji, S. Pd

   (Guru Matematika SMA Negeri 1 Pejagoan)

Dalam proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan bergantung bagaimana proses belajar yang dialami oleh peserta didik. Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan adalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, anak kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah. Proses pembelajaran di dalam kelas cenderung diarahkan kepada kemampuan peserta didik untuk menghafal, mengingat dan menimbun informasi.

Menurut Djamarah (2012: 21) belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan secara sadar untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari. Tujuan dalam belajar adalah terjadinya suatu perubahan dalam diri individu. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat ditunjukkan dalam bentuk perubahan pegetahuan, pemahaman, sikap, kebiasaan, keterampilan dan perubahan aspek-aspek lainnya pada individu yang belajar. Perubahan tersebut tidak akan terjadi apabila tidak adanya keaktifan peserta didik dalam belajar.

Keaktifan peserta didik dalam kegiatan belajar tidak lain adalah untuk mengkontruksi pengetahuan mereka sendiri. Mereka aktif membangun pemahaman atas persoalan atau segala sesuatu yang mereka hadapi dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu keaktifan peserta didik sangat penting dalam proses pembelajaran. Pembelajaran yang menekankan bahwa peserta didik harus aktif sesuai dengan teori kontrukstivisme. Teori ini menyatakan bahwa pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari pikiran guru kepada pikiran peserta didik. Artinya, peserta didik harus aktif secara mental dan membangun pengetahuannya.

Dalam rangka untuk mencapai tujuan pendidikan diperlukan suatu pembelajaran  aktif yang inovatif, sebagai salah satu upaya dalam meningkatkan kualitas pendidikan dalam  proses  pembelajaran. Salah satu cara agar  tujuan belajar  dapat  tercapai dengan baik adalah menerapkan model pembelajaran yang tepat, sesuai dengan mata pelajaran dan tema yang akan diajarkan. Peran fungsional guru dalam pembelajaran aktif yang utama adalah sebagai fasilitator. Banyak pembelajaran aktif yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar, salah satunya model Problem Based Learning. Problem Based Learning (PBL) atau pembelajaran berbasis masalah adalah model pengajaran yang bercirikan adanya permasalahan nyata sebagai konteks untuk peserta didik belajar berfikir kritis dan terampil memecahkan masalah serta memperoleh pengetahuan.

Sehubungan dengan mata pelajaran Matematika yang didominasi pada pemecahan masalah sehingga model Problem Based Learning (PBL) cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran matematika. Keberhasilan pembelajaran matematika dapat diukur dari keberhasilan peserta didik yang mengikuti kegiatan pembelajaran tersebut. Keberhasilan itu dapat dilihat dari tingkat pemahaman, penguasaan materi serta prestasi belajar peserta didik. Semakin tinggi pemahaman dan penguasaan materi maka semakin tinggi pula tingkat keberhasilan pembelajaran.

Menurut Shoimin (2014:131) mengemukakan bahwa langkah-langkah dalam model pembelajaran Problem Based Learning adalah sebagai berikut:

  1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran untuk memotivasi peserta didik terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
  2. Guru membantu peserta didik mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll).
  3. Guru mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, dan pemecahan masalah.
  4. Guru membantu peserta didik dalam merencanakan serta menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan.
  5. Guru membantu peserta didik untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwasannya model PBL pada dasarnya tidak dirancang penuh untuk membantu guru dalam menyampaikan informasi, melainkan untuk membantu peserta didik dalam mengembangkan keterampilan menyelesaiakan sebuah permasalahan, keterampilan berpikir kritis, dan keterampilan intelektual. Selanjutnya langkah – langkah  pembelajaran (sintaks pembelajaran) PBL adalah sebagai berikut:

  1. Orientasi peserta didik pada masalah. Peserta didik memahami masalah yang disampaikan guru untuk dipecahkan secara berkelompok.
  2. Mengorganisasikan peserta didik pada masalah. Peserta didik berdiskusi dan membagi tugas untuk mencari data/ bahan-bahan/ alat yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah, sedangkan guru memantau untuk memastikan anggota kelompok memahami tugas masing-masing.
  3. Membimbing memecahkan masalah. Peserta didik melakukan penyelidikan (mencari data/sumber/referensi) untuk bahan diskusi kelompok sedangkan guru memantau keterlibatan peserta didik dalam pengumpulan data/bahan selama proses penyelidikan.
  4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Setiap kelompok melakukan diskusi untuk menghasilkan solusi pemecahan masalah dan hasilnya dipresentasikan/disajikan dalam bentuk karya.
  5. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Setiap kelompok melakukan presentasi, kelompok yang lain memberikan apresiasi. Kegiatan dilanjutkan dengan merangkum/ membuat kesimpulan sesuai dengan masukan yang diperoleh dari kelompok lain dan guru.

Berdasarkan langkah-langkah di atas, tentunya akan membuat peserta didik mampu memecahkan permasalahan yang terjadi pada setiap proses pembelajaran, memudahkan peserta didik dalam menerima materi dan proses pembelajaran lebih aktif dan menyenangkan sehingga hal ini akan berpengaruh pada hasil belajar Matematika.

Daftar pustaka :

Djamarah, Syaiful Bahri. 2012. Prestasi Belajar dan Kompetensi guru. Surabaya: Usaha Nasional.

Shoimin, Aris. 2014. 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-ruzz Media.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar