Info Sekolah
Kamis, 25 Jul 2024
  • SMA Negeri 1 Pejagoan, Jalan Raya soka barat kilometer 4 Pejagoan, Kebumen - Kode Pos 54361 Telepon: 0287 382022 surat elektronik : smanja_1@yahoo.com
  • SMA Negeri 1 Pejagoan, Jalan Raya soka barat kilometer 4 Pejagoan, Kebumen - Kode Pos 54361 Telepon: 0287 382022 surat elektronik : smanja_1@yahoo.com

SISWA SMANJA SEHAT JIWA DAN RAGA

Pejagoan – Dalam rangkaian kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila kelas X, SMA Negeri 1 Pejagoan mengundang Psikolog dari RSUD dr. Soedirman Kebumen, Yulia Tri Haryanti, S.Pd., M.Psi untuk mengisi materi Pentingnya Menjaga Kesehatan Jiwa dan Raga. Kegiatan yang dilaksanakan  di Aula SMA Negeri 1 Pejagoan ini berlangsung di hari ke dua, Selasa, 31 Oktober 2023, dimulai pukul 07.30 sampai dengan pukul 10.00 WIB.

Dalam sambutannya di acara pembukaan, Kepala Sekolah, Erna Umu Nurlaela, S.Pd., M.Eng.  menyampaikan, “Hari kemarin kita sudah belajar bersama dokter Timbul dari Puskesmas Pejagoan yang bisa dikatakan dokternya fisik. Hari ini kita akan belajar bersama Ibu Yulia, psikolog RSUD dr. Soedirman Kebumen yang bisa dikatakan dokternya mental. Kita bersama-sama belajar tentang Bangunlah Jiwa Raganya agar bisa membangun dan membentuk siswa hebat SMA Negeri 1 Pejagoan.”

Materi inti dari narasumber mengungkapkan bahwa generasi sekarang adalah Generasi Z yang merupakan generasi produk dari pandemik. Generasi yang selama dua tahun tidak berangkat sekolah dan segala aktivitas menggunakan HP, serta hidup dalam kondisi orang tua yang mengalami resisi ekonomi dan berjuang demi memberikan kehidupan yang layak bagi keluarganya.

Kehidupan Generasi Z yang hidup di era teknologi ditandai dengan segala sesuatu yang dicari melalui internet, menyenangi segala sesuatu yang bersifat visual, menyukai sesuatu yang bersifat bebas, percaya diri dan otonom. Sedangkan permasalahan yang dihadapi generasi Z adalah kurang bisa fokus, memiliki tingkat kepedulian dengan lingkungan yang rendah, bullying, dan permasalahan di rumah.

Permasalahan lain yang dihadapi oleh generasi Z yaitu tingkat ketergantungan terhadap HP yang tinggi. Bagi mental anak, penggunaan HP tidak selamanya berdampak positif karena dapat menimbulkan efek kecanduan. Kelompok anak yang rentan kecanduan HP antara lain mereka yang bermain HP lebih dari 20 jam setiap minggunya dan seorang anak yang pertama kali bermain internet dalam rentang usia kurang dari 8 tahun.

Anak-anak yang merasa sedih dan cemas seringkali mengalihkan dengan bermain HP lebih banyak, membuka sosmed dan bermain game online. Pada tingkat lebih lanjut, kecanduan HP bisa mengakibatkan gangguan jiwa seperti depresi, bipolar, dan skizofrenia (psikotik). Sebagai bahan renungan, ternyata kabupaten Kebumen merupakan salah satu penyumbang terbesar pasien rumah sakit jiwa di Jawa Tengah yang memiliki kasus kecanduan HP.

Kasus lain yang lebih menarik di kabupaten Kebumen yaitu tentang LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) di kalangan pelajar dan mahasiswa. Menurut catatan dari Dinas Kesehatan, kabupaten Kebumen menduduki ranking 1 tingkat Jawa Tengah dalam kasus pengidap HIV. Dari hal inilah, Ibu Yulia menghimbau kepada seluruh siswa untuk berhati-hati dalam meng-invite grup pertemanan yang ada di sosmed. Serta menginstal aplikasi dari playstore.

Berkait dengan fenomena LGBT, beberapa siswa menyampaikan pendapatnya, antara lain Rakhel Amanda Kelas X.J, “Homo seksual bisa terjadi karena kehilangan sosok ayah sejak kecil”. Awwaludin Rezki Kelas X.I, “Salah satu penyebabnya adalah kurangnya kasih sayang dari orang tuanya”. Gendis Nilam Cahyani Kelas X.J, “Lesbi bisa terjadi karena sering disakiti oleh laki-laki”. Deva Tri Anggraini Kelas X.E, “Lesbi bisa terjadi karena berteman dengan sesama perempuan tetapi salah satunya memiliki perasaan yang lebih dalam”.

Melengkapi pendapat beberapa siswa tersebut, Ibu Yulia menambahkan, “Faktor lingkungan berdampak 90?n faktor genetik hanya 10% dalam terjadinya kasus-kasus LGBT. Selain itu, seringkali juga terjadi bahwa pelaku homo seksual pernah menjadi korban kekerasan seksual. Tidak jauh berbeda dengan kasus homo seksual, kasus lesbian juga bisa diawali karena kurang mendapat figur seorang ibu dan pernah mendapat kekerasan dari ayahnya,” tuturnya.

Selanjutnya, dalam sesi tanya jawab termin pertama, Lathifah Nur Istiqomah dari Kelas X.F menanyakan tentang Generasi Z yang suka overthinking dan negatif thingking, Rakhel Amanda dari kelas X.J menanyakan cara membatasi penggunaan internet agar tidak kecanduan, dan terakhir Ester Febiola Putri dari Kelas X.C yang menanyakan tentang cara menyikapi larangan melakukan sesuatu oleh orang tua padahal kegiatan tersebut bisa sebagai pengembangan diri.

Menanggapi pertanyaan dari para siswa, ibu Yulia menyampaikan penjelasan, overthinking terjadi karena seseorang terlalu tertutup sehingga permasalahan yang dialaminya semakin lama semakin menumpuk. Salah satu solusinya yaitu dengan kegiatan fisik atau olah raga. Pada kasus penggunaan internet, salah satu cara yang bisa dilakukan yaitu dengan menyeimbangkan antara penggunaan internet dan kegiatan fisik. Selanjutnya tentang permasalahan orang tua dengan anak. Orang tua tidak akan melarang anaknya untuk melakukan hal yang positif. Jika orang tua melarang, itu sebagai bukti perlindungan orang tua terhadap anaknya. Jika ada masalah dengan orang tua sebaiknya segera diselesaikan, bahkan jika perlu dapat meminta bantuan pada guru BK agar permasalahan cepat selesai.

Di termin kedua, pertanyaan pertama diajukan oleh Daffa Almer Dzaky Kelas X. H yang menanyakan tentang cara menghilangkan trauma bullying yang pernah dialami pada saat SMP. Pertanyaan kedua dari siswa atas nama Nur Alifia Harmayanti dari kelas X.I yang menanyakan tentang cara bergaul dengan anak yang cenderung pendiam atau introvert. Sedangkan penanya ketiga Annisa Nurul Hidayah Kelas X. E menanyakan tentang cara menghilangkan perasaan insecure (perasaan cemas, kurang percaya diri) untuk menghindari body shaming atau yang lainnya.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Ibu Yulia menjelaskan bahwa dalam kasus bullying, mulai dari pelaku, korban, dan saksi merupakan orang yang bermasalah. Korban bullying harus berani ngomong agar tidak menjadi bulan-bulanan pelaku. Saksi bullyng juga hasus berani membela korban bullyng agak tidak secara terus menerus menjadi korban. Selanjutnya, cara yang dapat dilakukan untuk menghadapi teman yang introvert adalah dengan memberi kenyamanan terlebih dulu. Selanjutnya untuk mengurangi rasa insecure adalah dengan segera menyelesaikan permasalahan yang dihadapi, jangan selalu disimpan sehingga menjadi sampah di dalam tubuh. Jika tidak berani berbicara tentang masalah, mengurangi kecemasan dalam tubuh dapat dilakukan dengan berolahraga.

Harapannya, hadirnya materi ini dapat meningkatkan pemahaman tentang berbagai permasalahan kejiwaan siswa sehingga bisa ditemukan solusi guna mengatasi dan membuat siswa/siswi SMA Negeri 1 Pejagoan jauh lebih sehat terutama secara mental. (Red)

#sesarengansmanjateruji

#smanjahebat

#cabdin9hebat