Pejagoan (14/8) – Komunitas Belajar (Kombel) SMA Negeri 1 Pejagoan pada Kamis, 13 Agustus 2026, menyelenggarakan kegiatan “Peningkatan Kompetensi Guru untuk Memahami Sikap Inklusif, Toleran, dan Kesetaraan Gender”. Kegiatan yang dilaksanakan mulai pukul 12.30 WIB ini diikuti oleh seluruh Bapak/Ibu Guru SMA Negeri 1 Pejagoan. Menghadirkan narasumber, Ibu Rofiah Akbar, S.Psi., M.Psi., seorang psikolog, kegiatan berlangsung dengan meriah dan penuh antusiasme.
Kegiatan diawali dengan sambutan Kepala SMA Negeri 1 Pejagoan, Ibu Aisiyah Nurhayati, S.Sos. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan harapan agar seluruh Bapak/Ibu Guru dapat mengikuti kegiatan dengan baik dan mengambil manfaat dari materi yang disampaikan. Beliau menegaskan bahwa salah satu tugas penting guru adalah menumbuhkan dan mengembangkan potensi setiap murid agar kelak menjadi manusia yang memiliki sikap inklusif, toleran, dan memahami pentingnya kesetaraan gender.
Acara dilanjutkan dengan pemamaparan oleh narasumber. Dalam pemaparannya, Ibu Rofiah Akbar memberikan penguatan dan pemahaman kepada para guru mengenai pentingnya menciptakan lingkungan pembelajaran yang mampu menghargai setiap murid tanpa membeda-bedakan latar belakang, kemampuan, budaya, maupun gender.
Materi kegiatan berisi penjelasan mengenai penerapan sikap inklusif dalam proses pembelajaran. Sikap tersebut dapat diwujudkan melalui beberapa langkah, antara lain modifikasi nalar atau pola pikir guru, pengaturan posisi duduk murid yang mendukung interaksi dan kenyamanan, pemilihan metode mengajar yang mampu mengakomodasi keberagaman kebutuhan belajar, dan penerapan penilaian yang memperhatikan kemampuan dan perkembangan setiap murid.
Selanjutnya, dalam membangun sikap toleran, guru dapat menerapkannya melalui penggunaan bahasa yang netral dan tidak diskriminatif, kemampuan melakukan mediasi konflik secara bijaksana, memberikan apresiasi terhadap keberagaman budaya, dan menumbuhkan empati sosial. Dengan sikap tersebut, murid diharapkan mampu belajar untuk menghormati perbedaan, memahami sudut pandang orang lain, dan hidup berdampingan secara harmonis dalam keberagaman.
Materi berikutnya membahas tentang pentingnya kesetaraan gender di lingkungan sekolah. Narasumber menyampaikan bahwa kesetaraan gender dapat diterapkan melalui pembagian tugas yang adil, pemberian peluang yang sama untuk memimpin, pemilihan contoh-contoh pembelajaran yang tidak bias gender, serta memberikan akses dan kesempatan berbicara yang setara kepada seluruh murid. Dengan demikian, setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan menunjukkan potensi terbaiknya.

Pada kesempatan tersebut, Bunda Rofiah juga mengajak seluruh Bapak/Ibu Guru untuk bersama-sama mewujudkan sekolah yang aman dan nyaman bagi semua murid. Beliau menekankan bahwa sekolah merupakan rumah kedua bagi anak untuk bertumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, seluruh warga sekolah memiliki tanggung jawab untuk menciptakan suasana yang aman, saling menghargai, bebas dari diskriminasi, serta memberikan ruang bagi setiap anak untuk menjadi dirinya sendiri dan mengembangkan potensinya.
Kegiatan Komunitas Belajar ini memberi para guru wawasan dan penguatan bahwa penerapan sikap inklusif, toleran, dan kesetaraan gender tidak hanya menjadi sebuah konsep, tetapi perlu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari dan terintegrasi dalam setiap proses pembelajaran.
Kegiatan ini menjadi pengingat bagi seluruh Bapak/Ibu Guru bahwa setiap murid adalah individu yang unik dan memiliki potensi untuk berkembang. Perbedaan bukanlah alasan untuk membatasi kesempatan, melainkan sebuah kekayaan yang perlu dihargai dan dikelola dengan bijaksana. Guru memiliki peran besar dalam menciptakan ruang belajar yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga mampu menumbuhkan rasa aman, saling menghormati, empati, keadilan, dan kepedulian sosial.
Melalui pemahaman dan penerapan sikap inklusif, toleran, serta kesetaraan gender, diharapkan SMA Negeri 1 Pejagoan dapat terus menjadi sekolah yang ramah bagi seluruh murid. Sebab, ketika sekolah menjadi rumah kedua yang aman dan nyaman, setiap anak akan memiliki kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan berkembang menjadi pribadi yang utuh serta mampu menghargai keberagaman dalam kehidupan bermasyarakat. (Red)